Senin, 25 Januari 2016

PINTU - PINTU RIZQI YANG BARAKAH



PINTU – PINTU RIZQI YANG BARAKAH
    Segala puji hanya milik Allah ‘azza wa jalla.Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam,keluarga,para sahabat dan orang-orang yang tulus mengikuti beliau hingga hari akhir.
   Diantara perkara yang banyak menyibukkan hati kaum muslimin adalah mencari rizqi.Sebagian besar kaum muslimin saat ini memandang bahwa berpegang teguh dengan islam dan menerapkannya dalam kehidupannya sehari-hari dapat mengurangi rizqi mereka.Bahkan yang lebih parah dan menyedihkan,tidak sedikit dari kaum mislimin berangkapan bahwa untuk mendapatkan kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya mereka menutup mata dari hukum – hukum islam, terutama yang berkenaan dengan hukum halal dan haram.Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan.
   Mereka itu lupa atau berpura-pura lupa bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mensyari’atkan  agamanya sebagai petunjuk bagi umat manusia tidak hanya dalam perkara-perkara kebahagiaan akhirat saj.Namun Allah ta’ala mensyari’atkan  agama ini juga untuk menunjuki manusia dalam urusan kehidupan dan kebahagiaan di dunia.
Sebagaimana Imam al- Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,ia berkata :
“Sesungguhnya doa yang sering diucapkan oleh nabi shalallahu ‘alaihi wa salam adalah,”wahai tuhan kami,karuniakanlah kepada kami kebaikan didunia dan diakhirat,dan jagalah kami dari siksa api neraka”(HR. al- Bukhari,no 6389).
Allah ta’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tidak meninggalkan umat islam tanpa petunjuk dalam kegelapan dan keraguan dalam usaha mencari rizqi. Tapi sebaliknya,sebab –sebab mendapat rizqi telah diatur dan dijelaskan . Seandainya muslimin mau memahami dan menyadarinya,niscaya Allah ta’ala akan memudahkan mencapai jalan-jalan untuk mendapatkan rizqi dari setiap arah,serta akan dibukakan untuknya keberkahan dari langit dan bumi.Oleh karena itu pada kesempatan kali ini kami ingin menjelaskan tentang berbagai sebab diatas dan meluruskan pemahaman yang salah dalam usaha mencari rizqi.
PINTU – PINTU RIZQI
Diantara sebab-sebab diturunkannya rizqi antara lain adalah :
1.     Bertaqwa kepada Allah.
Bertaqwa berarti menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.Dengan taqwa maka Allah ta’ala akan membuka pintu rizqi yang penuh berkah, bukan rizqi yang dilaknat Allah. Allah ta’ala berfirman :
“Sekiranya penduduk negri- negri mau beriman dan bertaqwa,pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami),maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.(QS. Al- A’raf :96 ).
2.     Beristighfar (memahami) dan Bertaubat kepada Allah.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang Nabi Nuh ‘alaihissalam yang berkata kepada kaumnya :
“ Maka aku katakan kepada mereka,’mohon ampunlah kepada tuhanmu’,sesungguhnya Dia adalah maha pengampun,niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,dan membanyakkan hartamu dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula (di dalamnya )untukmu sungai-sungai.”(QS. Nuh: 10 -12 )
Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat yang mulia diatas berkata :”maknanya,jika kalian bertaubat kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya,niscaya ia akan memperbanyak rizqi kalian,ia akan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit,mengeluarkan untuk kalian keberkahan dari bumi,menumbuhkan tumbuh-tumbuhan,melimpahkan air susu,memperbanyak harta dan anak-anak untuk kalian,menjadikan kebun-kebun yang didalamnya terdapat macam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai –sungai diantara kebun-kebun untuk kalian.(Tafsir Ibnu Katsir,surah Nuh : 10 -12)

3.     Bertawakal.
Yaitu berusaha dengan maksimal yang disertai dengan sikap menyandarkan diri hanya kepada Allah ta’ala yang memberikan kesehatan,rizqi,manfaat, bahaya,kekayaan,kemiskinan,hidup dan kematian serta segala yang ada. Tawakal ini akan membukakan rizqi dari Allah ta’ala, sebagaimana janji-Nya dalam firman-Nya :
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah  melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya.Sesungguhnya telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”(QS. At- Thalaq: 3)
4.     Gemar Berinfak.
Yaitu infaq yang dianjurkan agama,seperti kepada fakir miskin,menolong orang lain yang kekurangan ,membantu masjid,untuk kemaslahatan dakwah,atau untuk agama Allah ‘azza wa jalla.
Infaq dijalan Allah inilah yang menjadikan pintu rizqi terbuka. Allah subhanahu wa ta’ala berjanji dalam kitab-Nya yang mulia :
“Katakanlah : Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rizqi  bagi siapa yang dikehendakinya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan (siapa yang dikehendaki-Nya)”.Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan,maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rizqi yang sebaik-baiknya”               (QS. Saba’:39)
5.     Gemar Bersilaturahmi.
Yaitu berbuat kepada segenap kerabat dari garis keturunan maupun perkawinan dengan lemah lembut,kasih dan melindungi.Silaturahmi ini menjadi pintu pembuka rizqi sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam :
“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizqinya dan diakhirkan ajalnya              (di panjangkan  serta diberkahi umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahmi.”(HR. Bukhari )
Silaturahmi ini menyamngkut pula kerabat yang belum islam atau yang bermaksiat, dengan usaha menyadarkan mereka, bukan malah mendukung kemungkaran atau kemaksiatannya. Apabila mereka semakin merajalela dengan cara silaturahmi seerti ini,maka menjauhi adalah yang terbaik,hanya saja hendaknya kita tetap memohon hidayah untuk mereka.
Kita memohon kepada Allah agar dibukakan bagi kita pintu-pintu rizqi-Nya dari langit dan bumi , rizqqi yang baik,penuh berkah,bermanfaat bagi kita semua. Dan kita memohon kepada-Nya agar dapat menggunakan rizqi tersebut untuk sesuatu yang bermanfaat bagi kita baik didunia maupun di akhirat.Terakhir,semoga Allah memberi hidayah kaum muslimin untuk kembali kepada ajaran islam yang sesungguhnya yang berdasar kepada al-Quran dan as-Sunnah dengan pemahaman as-salaf ash-shahih.Barakallahu fik. amin.

Malang,10 Agustus 2015
                                                                                                            Penulis

































MENJAGA KEJUJURAN DALAM KESEHARIAN



Menjaga Kejujuran dalam Keseharian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “Hendaklah kalian berlaku jujur,sebab kejujuran itu membawa pada kebaikan”.
Jujur dalam arti sempit ialah kecocokan antara ucapan dengan kenyataan.Dalam pengertian lebih luas ,jujur berarti kesesuaian antara lahir dan batin.Firman Allah SWT :”Supaya Allah memberikan balasan kepada orang –orang yang benar itu karena kebenarannya,dan menyiksa orang yang munafik”(QS. Al Ahzab :24).
Jujur merupakan sifat yang terpuji.Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang melimpah bagi mereka.Termasuk dalam kejujuran adalah jujur kepada Allah ta’ala, kepada sesama manusia dan kepada diri sendiri.Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi  shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “Senantiasalah kalian jujur,karena kejujuran itu membawa kepada kebajikan,dan kebajikan membawa kepada surga.Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha  untuk selalu jujur,akhirnya ditulis disisi Allah subhanallah wa ta’ala sebagai seorang yang  selalu jujur.Dan jauhilah kedustaan karena keduataan itu membawa kepada kemaksiatan,dan kemaksiatan membawa ke neraka.Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta,akhirnya ditulis di sisi Allah subhanallah wa ta’ala sebagai seorang pendusta”(HR. Al Bukhari,Muslim dan  At Tirmidzi).
Berikut ini adalah beberapa kiat untuk dapat senantiasa menjaga kejujuran :
1.      TIDAK MEMBICARAKAN SETIAP YANG DIDENGARNYA.
Hendaknya lisan kita senantiasa dipelihara dan dijaga.Maka waspada darinya dan berhati-hati dalam menggunakannya merupakan sikap lebih bertaqwa dan lebih wara’(berhati-hati dan menjaga diri).Apabila engkau menemukan seseorang yang banyak bicara dan tidak peduli terhadap omongannya,maka ketahuilah sesungguhnya ia berada dalam bahaya besar.Rasulallah bersabda : “Cukuplah seseorang dipandang berdusta bila ia membicarakan semua yang didengarnya” (HR.Muslim dan Abu Daud). Alasannya,banyak bicara dapat menjerumuskan kedalam kebohongan dengan menceritakan sesuatu yang tidak pernah terjadi. Saat ia tidak mendapatkan bahan pembicaraan,atau dengan mengutip berita seseorang pendusta sedangkan ia mengetahui ,maka ia termasuk salah seorang pembohong.
2.      BIASAKAN BERKATA JUJUR.
Setiap akhlaq yang baik,bisa diusahakan dengan membiasakannya dan bersungguh-sungguh menekuninya , serta berusaha mengamalkannya ,sehingga pelakunya mencapai kedudukan yang tinggi ,naik dari tingkatan pertama kepada yang lebih tinggi darinya dengan akhlaq yang mulia.karena itulah,Rasulullah bersabda: “Hendaknya kalian berlaku jujur,karena sesungguhnya kejujuran menunjukan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan membawa kepada surga.Seseorang yang senantiasa bersifat jujur dan menjaga kejujuran, maka ia ditulis disisi Allah sebagai orang yang jujur”.
Demikian pula perkara pembohong,ia akan disifati dengan kebohongan. Rasulullah melanjutkan  : “Jauhilah kebohongan,karena kebohongan itu membawa kepada kefasikan dan sesungguhnya kefasikan membawa kepada neraka.senantiasa seseorang berbohong dan terus berbohong , sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai pembohong”(HR. Al Bukhari,Muslim,dan At - Tirmidzi).
Berapa banyak orang yang suka membual menjadi celaka dalam membuat- buat pembicaraan untuk menarik perhatian dan membuat cerita untuk membuat orang lain tertawa.Orang seperti ini akan binasa,sebagaimana disebutkan dalam hadist : “Celakalah bagi orang yang berbicara untuk membuat orang-orang tertawa ,lalu ia berbohong, celakalah ia,celakalah ia”(HR. A BU Daud dan At- Tarmidzi dengan sanad hasan, jami’ al-ushul 10/599 no 8186)
3.      BERKATA BAIK ATAU DIAM.
Imam an- Nawawi rahimahullah (wafat 676 H) berkata, “ ketahuilah, sepantas bagi semua mukallaf( orang yang baliq dan berakal ) menjaga lidahnya dari seluhruh perkataan,kecuali perkataan yang jelas ada mashlahat-nya(manfaat dan kebaikannya).Tatkala berbicara  atau tidak berbicara sama-sama ada mashlahatnya ,maka menurut sunnah hendaknya kita menahan diri darinya. Karena  perkataaan mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram atau makruh. Bahkan,ini banyak atau dominan pada kebiasaan.sedangkan keselamatan itu tiada bandingannya. Telah diriwatkan kepada kami didalam dua kitab shahih: shahih al –bukhari        ( no. 6475)dan shahih muslim(no. 47), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah  beliau bersabda : “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam”. Aku katakan  : hadist yang disepakati shahih ini adalah dalil yang jelas bahwa sepantasnya seseorang tidak berbicara,kecuali jika perkataan itu merupakan kebaikan, yaitu yang nampak mashlahatnya. Jika dia ragu-ragu tentang timbulnya mashlahat, maka dia tidak berbicara.
Imam asy -Syafi’i rahimahullah berkata :”jika seseorang menghendaki berbicara, maka sebelum berbicar hendaknya ia berpikir,jika tampak jelas maslahatnya maka silakan berbicara,namun jika ragu-ragu,hendaknya ia tidak berbicara sampai jelas kemaslahatannya”.             (al-adzkaar,2/713-714, karya Imam an-Nawawi).
Syafiq rahimahullah mengatakan Abdullah bin Mas’ud bertalbiyah diatas bukit shofa,kemudian mengatakan, ”wahai lidah,katakanlah kebaikan niscaya engkau mendapatkan keberuntungan,diamlah niscaya engkau selamat ,sebelum engkau menyesal.”  Orang-orang bertanya, ”wahai Abu A’bdurrahman,ini adalah suatu perkataan yang engkau ucapkan sendiri atau engkau dengar ?’’ dia menjawab ,  ”tdak,bahkan aku telah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “Mayoritas kesalahan anak adam adalah pada lidahnya”.               (HR. Thabrani,Ibnu A’sakir dan lainnya .Lihat silsilah ash- shahihah, no 534).
4.      BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG JUJUR.
Banyak orang yang terjerumus dalam lubang kemaksiatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jele.Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman –teman yang shalih. Dalam sebuah hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman, beliau bersabda : “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi ,penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi ,atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya,dan kalau tidak , engkau tetap mendapatkan wanginya.Sedangkan  yang pandai besi ,bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu,dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asap yang tidak sedap”. (HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628 ).
Imam Muslim rahimahullah mencantumkan hadist diatas dalam bab anjuran untuk berteman dengan orang shalih dan menjauhi teman yang buruk.
Imam an-Nawawi rahimahullah “menjelaskan bahwa dalam hadist ini terdapat permisalan teman yang shalih dengan seorang pejual minyak wangi dan teman yang jelek dengan orang yang pandai besi.Hadist ini juga menunjukkan keutamaan bergaul dengan teman yang shalih yang memiliki akhlaq yang mulia ,sikap wara’ dan ilmu serta adab.Sekaligus  juga terdapat larangan bergaul dengan orang-orang yang buruk,ahli bid’ah,serta bentuk perbuatan tercela lainnya”(syarh shahih muslim 4/227 ).
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah mengatakan : “Hadist ini menunjukan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia.Hadist ini juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia”                                         ( Fathul Bari 4/227).
Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasalam menjadikan teman sebagai patokan terhadap baik dan buruknya agama seseorang.Oleh sebab itu beliau memerintahkan kepada kita agar pandai memilih teman dalam bergaul.Dalam sebuah hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menerangkan :                     seseorang itu bisa terpengaruh agama teman dekatnya,maka itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman “(HR. Abu Daud dan Tirmidzi.Dishahihkan oleh Syaikh al -Albani dalam silsilah ash-shahihah no. 927 )
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata : “Secara umum,hendaknya  orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : berakal,berakhlaq mulia,tidak fasik,bukan ahli bid’ah, bukan orang yang rakus terhadap dunia”(Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36).
Agar hidupmu menjadi benar dan dikumpulkan bersama orang yang jujur,maka jadikanlah lahir dan batinmu benar demikian pula jadikanlah lisanmu lisan yang benar.Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan rizqi  kepadamu berupa langkah yang benar dan tempat yang benar. Kejujuran adlah ketegasan dan keterusterangan, sedangkan berpaling darinya adalah penyimpangan. Orang yang beriman akan selalu jujur dan “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan,  hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah ,dan mereka itulah orang-orang pendusta. (QS. An – Nahl: 105 ).

MAKNA MENGUCAPKAN SYAHADAT



MAKNA MENGUCAPKAN SYAHADAT
       Kaum muslimin yang insyaallah dimuliakan  Allah perlu kita ketahui bahwasanya syahadat hari ini menjadi sesuatu yang dilupakan orang,bahkan syahadat hari ini paling tinggi hanya ucapan2 atau zikir2 di masjid2 tanpa mempunyai makna dan pengaruh.Maka dari itu perlu dijelaskan bagaimana dasyatnya pengaruh syahadat,karena syahadat itu sanggup merubah pola hidup manusia dari serusak-rusaknya menuju sebaik-baiknya manusia.
       Syahadat dewasa ini banyak diucapkan dan dizikirkan banyak orang,bahkan sampai beribu-ribu kali,namun hampir tidak mempunyai pengaruh apa2. Syahadat bagaikan ungkapan sakral musiman,dimana saat seseorang memeluk dinul islam,syahadat tampil sebagai pra syarat mutlak untuk menjadi muslim, muallaf inipun mendapat hadiah,baju koko,sarung bahkan uang.Sementara jika kita menengok kebelakang (zaman sahabat),mereka harus rela dirinya disiksa,diintimidasi lantaran mengucapkan kalimat syahadat,ini menunjukkan bahwa membaca syahadat tempo dulu sangat berat sebab nyawa taruhannya,hal ini jauh berbeda dengan syahadat yang diucapkan hari ini.
     Satu ungkapan dari seorang sahabat Al Miqdad bin Al Aswad bahwasanya pengaruh kalimat Laailahaillallah yang karenanya manusia itu terbagi menjadi dua,sehingga manusia ketika itu terpisah antara iman dan kafir,sampai istri berpisah dengan suaminya,anak berpisah dengan orang tua,seperti contohnya Mus’ab bin Umair dan Sa’ad bin Abi Waqash.Kasus Sa’ad itu sangat luar biasa,karena dalamnya pemahaman lailahaillallah jadi konsekuensinya seperti itu.Seorang ibu harus dia relakan,mestinya ibu harus lebih dahsyat dari bapak,dia hrus di sayangi ,namun karena maksud ibu itu dengan perlakuannya dengan mogok makan menginginkan supaya Sa’ad melepaskan keislamannya,melepas kalimat tauhid yang ia pegang dan laksanakan,maka Sa’ad bertaruh dan tegas kepada ibunya hingga akhirnya ibunya menyerah.Berkaitan dengan peristiwa ini Allah  berfirman :
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,maka janganlah kamu mengikuti keduanya,dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku,kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu,Maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.      (QS. Al-Luqman : 15)
      Asbabul nuzul dari ayat ini adalah tentang Sa’ad bin Abi Waqash,orang tua jika memerintahkan perintahnya yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasulnya,maka tidak boleh dita’ati,tetapi dia masih punya kewajiban yang lain yaitu mempergauli kedua orang tua di dunia dengan pergaulan yang baik.Perintahnya yang munkar,haram untuk dita’ati,apalagi memerintahkan untuk berbuat syirik .Tapi hari ini tidak sedikit orang yang karena belum paham sehingga ada yang beranggapan “kalau saya gak ikut  apa kata orang tua nanti saya berdosa”.Ini adalah  sebuah anggapan yang sangat keliru,maka berdasarkan ayat ini,tidak boleh kita mengikuti perintah orang tua,kalau perintah itu menyelisihi perintah Allah dan Rasulnya.Sebaliknya jika kita di perintahkan untuk suatu kebajikan maka bersegeralah untuk itu,dimana rahmat Allah senantiasa menaungi orang2 yg beramal sholih.
Rasulullah bersabda:” Tidak ada ketaatan kepada makhluk selama itu bermaksiat kepada Allah”. Siapapun makhluknya,mau dia Presiden, Pemimpin,Raja,Penguasa,Orang yang paling berkuasa sekalipun,kalau dia memerintahkan perintah yang menyelisihi Allah,maka haram untuk di taati. Kalau pimpinan mau pecat,biarkan saja,lebih baik keluar dari pada aqidah kita rusak karena diperintah dengan menyelisihi perintah Allah.Kalau orang sekarang ini rata2 semuanya takut ,kehidupan dunia telah membutakan mata batinnya hingga perintah Allah di abaikan bgtu saja.
Sebuah kutipan yang indah dari Ibnu Qoyyim Al-Jauziah tentang syahadat,beliau mengatakan :”syahadat ini yang dengannya Allah tegakan langit dan bumi,dan dengan kalimat ini Allah menciptakan seluruh makhluknya ,menurunkan kitabnya,serta menerapkan syari’atnya.


KAU,AKU,BUKAN MEREKA



KAU,AKU, BUKAN MEREKA
Karya :  Maratussolihah.S.S

Kau pernah berkata negri ini negri kita
Tapi lihatlah mutiara kita dijarah
Kaupun berkata negri kita kaya
Tapi masih ku dengar  rintahan anak-anak yang papa
Kau terus berkata penguasa kita punya mata
Tapi nyatanya mreka masih buta
Kaupun selalu berkata mereka adalah kita
Tapi kau telah lupa mereka merampas hak kita
Haruskah  kau biarkan ibu pertiwi terus terluka
Sementara mereka berjalan dengan congkak
Menutupi  bopeng-bopeng yang bernanah
Dengan topeng kemunafikan
Mengenakan dasi dan jas serta jubah-jubah kebesaran
Di atas podium mereka berbicara atas nama agama
Berbicara atas nama kemanusiaan
Berbicara tntang moral
Tapi dari tangan mereka aku mencium bau anyir darah
Membanjiri luka-luka yang menganga
Dan disana...
Dibalik gedung DPR yang megah
Dibalik hotel-hotel berbintang lima
Digubuk reyot yang tua
Dinegri bernama indonesia
Seorang anak meregang nyawa  karena kelaparan yang menyapa
Kau,kau dan aku
Saatnya kini bangkit
Merubah keterpurukan menjadi terhormat
Merubah kemiskinan menjadi terpandang
Merubah kebiadaban menjadi peradaban
Teriakan kita bisa
Karena kau,aku bukan mereka
Karena tanah ini masih tanah kita
Esok ketika fajar menyingsing
Dari surau-surau kecil
Dari dinding-dinding sekolah
Kan menggema tunas-tunas baru
Harapan-harapan baru
Pemimpin-pemimpin baru
Yaitu KAU,AKU BUKAN MEREKA