Jumat, 10 Januari 2020

MASJID SEBAGAI BASIS KEKUATAN DOU LABO DANA MBOJO




MASJID SEBAGAI BASIS KEKUATAN DOU LABO DANA MBOJO
Penulis : Ibnu Khaliqy
Prolog
Sebagai prolog, perlu kita pahami terlebih dahulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan masjid dan bagaimana basis kekuatannya bagi ummat. Secara umum masyarakat pasti tahu bahkan orang awam pun  mengerti bahwa masjid adalah rumah Allah dimuka bumi ini. Tatkala kita ingin mencari surga dunia, maka disanalah bermuara kepingan surga yang sesungguhnya. Masjid juga menjadi tempat dimana kita mengadu, merintih, serta menyatakan kesyukuran atas setiap peristiwa yang dilewati. Dengan begitu, menjadi jelas bahwa masjid merupakan sarana pendekatan sekaligus penyerahan diri seorang hamba kepada Tuhannya sebagai penanda seseorang itu mematuhi seluruh perintah serta menjauhi segala laranganNya.

Kemudian jika kita merujuk pada perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW maka akan ditemukan bagaimana masjid menjadi pilar kekuatan serta peradaban ummat waktu itu. Dari sini masyarakat dibentuk dan dibina dengan penuh keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Konsep yang dihadirkan Rasulullah tersebut memberi kekuatan maha dahsyat dalam berbagai aspek kehidupan, diantaranya yang paling menonjol ialah sosial ekonomi dan politik. Sejarah membuktikan bagaimana Kaum Aus dan khazraj mampu dipersatukan dalam naungan islam, demikian juga dengan kaum anshar dan muhajirin. Hal tersebut tidak terlepas dari peran masjid yang tidak hanya berpusat pada ritual keagamaan semata namun lebih dari itu memberikan ruang pada aspek lainnya bagi kemajuan peradaban islam.
Tantangan dan Tindakan
Hari ini, di tanah Bima tercinta tantangan begitu besar di depan mata. Dinamika sosial yang beragam seakan melengkapi kompleksitas problematika dinegri tepian air ini. Degradasi moral disertai pudarnya nilai-nilai luhur budaya daerah tak kunjung sembuh dari sakitnya. Padahal berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah daerah dari masa ke masa namun belum mampu memberikan perbaikan yang berarti bagi dou labo dana Mbojo. Salah satu program pemerintah yang sangat menarik perhatian waktu itu ialah program magrib mengaji. Suatu langkah yang dipandang efektif untuk membendung budaya lokal dari pengaruh negatif tayangan televisi dan kemajuan teknologi. Selain itu juga program tersebut sebagai langkah strategis dalam menghidupkan kembali nilai-nilai islam dan kearifan lokal yang selama ini hampir atau bahkan dilupakan masyarakatnya.

Kaitan dengan program magrib mengaji sebagaimana tersebut diatas belum mampu secara optimal menjawab tantangan Bima hari ini dikarenakan belum adanya tindakan konkrit dari pemerintah melalui kebijakannya. Maka pada kesempatan yang berbahagia ini perlu kami sampaikan bahwa pemerintah daerah selaku pemangku kekuasaan tertinggi harus melakukan revitalisasi atau optimalisasi fungsi masjid sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Jangan terjebak dikotomi politisasi masjid atau masjid politis, inilah saatnya masjid menjadi basis kekuatan serta peradaban bagi  dou labo dana Mbojo. Sebab dari masjid ekonomi diberdayakan, dari masjid kebudayaan islam serta kearifan lokal dikenalkan, dan dari masjid pula pengetahuan islam menemukan kembali kejayaannya.
Disisi lain, dalam kehidupan bermasyarakat kerap ditemukan kasus dimana masjid hanya dijadikan sarana pemberitaan kematian. Distorsi fungsi masjid yang masih kurang dipahami oleh masyarakat ini perlu disosialisasikan oleh semua pihak. Tindakan yang selama ini dilakukan seakan memberi kesan bahwa  masjid hanyalah tempat ibadah dan pemberitaan kematian semata. Selain itu peran atau kontribusi masyarakat terhadap masjid hanya terlihat pada hari tertentu saja, misalnya pada hari besar islam atau ketika ada hajatan lainnya. Kondisi ini membuktikan bahwa antara masjid dan ummat masih ada tabir pemisah yaitu ritual atau doktrin agama, bukan lagi berdasarkan kesadaran untuk membangun dou labo dana  menuju paradaban yang gemilang, maka dari itu hal ini menjadi tantangan bagi semua pihak di dana Mbojo tercinta yang harus segera direalisasikan dalam bentuk kebijakan(pemerintah) dan tentunya harus diiringi dengan dukungan masyarakat secara nyata.
Solusi Konkrit
Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjadikan masjid sebagai basis kekuatan ummat, misalnya dibidang ekonomi dengan menerapkan program “lumbung masjid”. Program ini bertujuan menampung sumbangan hasil panen masyarakat berupa padi/beras atau lainnya sehingga bisa didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan tanpa harus menunggu  pembagian zakat mal atau raskin dari pemerintah. Tentu hal ini akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat serta mengurangi angka kriminalitas. Selain itu, dengan pengelolaan atau manajemen yang baik maka masjid bisa membangun badan usaha milik masjid (asset) berupa mini market atau lainnya, dengan demikian akan memudahkan masjid dalam menjalankan segala bentuk kegiatannya secara maksimal. Hal tersebut juga menjadi point penting sehingga strategi pencapaian kemakmuran masjid bagi kemakmuran ummat dan lingkungannya bisa terwujud.

Kemudian dibidang pendidikan dan keagamaan bisa dilakukan dengan upaya peningkatan kegiatan ketakliman atau kajian keagamaan. Dalam hal ini masjid menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan karakter sebagai seorang muslim. Tua-muda, besar-kecil, pimpinan maupun bawahan menjadi satu kesatuan dalam majlis ilmu. Tidak ada pembeda diantara mereka melainkan taqwa, ummat betul-betul dibina menuju masyarakat madani yang diimpikan. Untuk itu pemerintah harus memberikan regulasi kepada para mubalig atau kaum intelektual (Dosen) untuk menyampaikan kajian-kajian sebagai mitra pemerintah, Dengan begitu pemerintah daerah lebih terbantu dan bisa melangkah pada tugas lainnya.
Selanjutnya dalam bidang sosial kemasyarakatan, kami merasa perlu adanya program “ronda subuh”. Program ini bertujuan membantu masyarakat untuk bangun melaksanakan sholat subuh berjamaah sebagaimana tradisi membangunkan makan sahur pada bulan puasa. Hal ini dirasa efektif, setidaknya memberikan sinyal kepada masyarakat untuk bangun melaksanakan sholat subuh dan mempersiapkan segala sesuatu untuk aktivitas hari itu. Artinya masyarakat dilatih untuk tidak bermalas diri melainkan mengawali pagi dengan menyembah Tuhan yang maha esa sembari berdoa  untuk dimudahkan dalam kompetisi hidup pada hari itu (fastabiqul khairat).
Semoga tulisan singkat ini menjadi bahan refleksi bagi siapapun yang membacanya, tentunya kami berharap tidak terbatas pada pemikiran semata, namun lebih dari itu mampu diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, khususnya dou labo dana Mbojo tercinta.

Selasa, 13 Februari 2018

Perjalanan Hidup



PERJALAN HIDUP
(Renungan Malam)

Tahapan hidup merupakan fase perjalanan kehidupan setiap orang yang tidak akan bisa dilompati. Semuanya berjalan berdasarkan alur yang telah di tentukan oleh Nya.

Oleh karna itu, hidup selalu menghadirkan cerita dan kisah yang menyatu dalam setiap keseharian. Berjalan tanpa bisa kita prediksi. Senang  atau susah, menangis atau tertawa, hitam atau putih, baik atau buruk, bising atau sunyi, menjerit atau bungkam hanyalah bagian kecil dari setiap sisi kehidupan. Karena semua bagian dari kehidupan itu  telah diciptakan secara berpasangan. Itulah sebabnya kita harus berani gagal untuk mencicipi manisnya kesuksesan.

Lihatlah kebelakang dengan penuh kepuasan, dan pandanglah kedepan dengan penuh keyakinan. Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa kesedihan, tawa tanpa sedih, panas tanpa hujan, tetapi DIA menjanjikan kekuatan untuk menghadapi hari-hari sulit, hiburan untuk tangisan, dan petunjuk untuk menjalani kehidupan.

Segala sesuatu dalam kehidupan sifatnya sementara, jika berjalan dengan baik, nikmatilah. Karena hal itu tidak berlangsung lama. Jika tidak berjalan baik, jangan kawatir, karena hal itu juga tidak akan berlangsung selamanya.

Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan. Jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah sekitar mu denga penuh kesadaran. Pada saatnya kita harus mulai berani menentukan tujuan hidup kita sendri, siap menghadapi dan mengambil segala resiko yang muncul serta menghapus bayangan kegagalan masa lalu, maka semua impian pasti menjadi kenyataan.

Ingatlah,,,Lakukan segalanya hingga puncak ikhtiar, bersam kesulitan ada kemudahan .dua kata yang selalu beriringan, saling bertautan, syarat akan makna. Kita ketahui dalam menanam ada proses perawatan, maka dalam diri ada proses penempaan. Semua itu tersampul dalam kata PROSES. Suatu langkah yang selalu dilalui sebelum mencapai ujung perjalanan.

Yang pasti setiap individu memiliki jalan atau prosesnya yang berbeda, menjadikan mereka mengerti arti apa yang sedang diperjuangkan, untuk apa dan mengapa harus aku. Mencoba berfikir dan terus berfikir, Bermimpi dalam harap adalah suatu hal yang perlu , namun proses pencapaian menuju mimpi itu adalah sebuah keharusan yang harus dilakukan dalam bentuk nyata. Siapa lagi jikalau bukan kau, kapan lagi jikalau tidak sekarang. Ketahuilah,, Menunda hal baik adalah suatu kerugian,, menunaikannya adalah kemenangan. 

Masjid Ulul Albab, Rabu 14/2/18 
Pukul 02:17 WIB

Senin, 29 Januari 2018

Satu Dalam Perbedaan.





Satu dalam perbedaan.
Senyum ini yg mereka harapkan.
Hari ini,esok, dan di masa depan.
In sha Allah qobul.aamiin.

Harapan tinggallah harapan jika tidak disertai tindakan, impian tinggallah impian jka tidak selaras dengan kemampuan.
Hanya karena kamu mendengar apa yg dilakukan seseorang, tak berarti kamu bisa menghakiminya. Kamu tak tahu apa yg telah dilaluinya.
Tidak seorang pun punya kemampuan untuk melakukan sesuatu hal sempurna, tapi setiap orang diberi banyak kesempatan untuk melakukan hal yang benar.
Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi pencapaian kecemerlangan hidup yang diidamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan.
Kelakukan kita terhadap kehidupan, menentukan sikap kehidupan terhadap kita.
saat kita mendapatkan yang biasa ketika mendambakan yang terbaik, bersyukurlah, karena kita tidak mendapatkan yang terburuk. "Kegagalan adalah peluang untuk hal yang lebih baik. Kegagalan adalah batu loncatan untuk pengalaman yang berharga. Suatu hari nanti kita akan bersyukur untuk beberapa kegagalan yang kita alami. Percayalah, ketika satu pintu tertutup untuk kita, sebenarnya pintu yang lain selalu terbuka".

Senin, 08 Januari 2018

Meraih Asa

Meraih Asa

Ketika kau berlari dengan membawa sebuah asa dipundakmu, maka jangan pernah berhenti, karena jika engkau berhenti, maka beban yang terasa dipundakmu akan terasa semakin berat.

Berlarilah sekuat tenaga hingga kau sampai tujuan, atau setidaknya berjalanlah hingga kau benar-benar sampai kepada garis finish, karena disanalah kau bisa beristirahat dengan meletakkan asa-asa yang selama ini telah kau pikul. Semakin cepat kau menuju garis finish, semakin cepat kau melepas beban-beban yang selama ini kau bawa.

Selagi kau masih punya waktu dan tenaga, berlarilah sekuat mungkin dan pastikan bahwa kau tak membuang-buang waktumu, karena semakin cepat kau sampai kepada garis finish, maka semakin cepat pula kau beristirahat dan menikmati hasil jerih payahmu selama ini.

Ingatlah bahwa pelari terbaik tidak pernah menoleh kebelakang untuk melihat seberapa jauh dan seberapa cepat lawannya berlari, ia hanya melihat kedepan dan focus pada garis akhir dengan mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya dalam berlari, karena ia yakin, entah ada pada posisi berapa ia sekarang, yang ia tahu ia akan tetap sampai pada garis akhir itu sesuai kemampuannya. Jangan berusaha keras untuk mengalahkan orang lain, tapi fokuslah untuk memenangkan dirimu sendiri.

Kekuatan terbesar berasal dari dirimu sendiri, jadi jangan pernah menjadikan siapapun sebagai alasanmu untuk berhasil. Dan kekuatan terbesar datang ketika kamu percaya bahwa kamu akan mencapai garis akhir… suatu saat nanti…. 😉

Perjalanan sejauh satu mil dimulai dari satu langkah.

mulailah langkah pertamamu sesegera mungkin dengan penuh semangat. Dan pijakkanlah langkah terakhirmu dengan lompatan kegembiraan.

@nggahi rawi pahu@
@salam keluarga@
@Himpunan Mahasiswa Bima@

Kamis, 14 Desember 2017

Organisasi Dan Tanggung Jawab.

Assalamualaikum Wr.Wb
Sebagai organisasi yang berasaskn Pancasila dan dgn sistem kekeluargaan yg di bangun maka setiap gerak langkah Himpunan mahasiswa Bima senantiasa dilandasi oleh butir-butir Pancasila baik dalam kehidupan organisasi maupun yang tercermin dalam pola pikir, sikap dan tindak anggota Himpunan mahasiswa Bima itu sendri, sehingga Pancasila tidak hanya menjadi sumber inspirasi dan motivasi sja, namun jg menjadi tujuan yang harus diwujudkan, tentunya melalui kerangka kekeluargaan yg telah dibangun sejak awal di dirikan.

Himpunan Mahasiswa Bima (HMB) UIN Malang merupakan wadah sekaligus instrumen yg harus mampu memberikan sumbangsi terbaik, bukan hanya terbatas untuk para anggotanya namun sekaligus untuk masyarakat Dana mbojo, bangsa, negara dan agama serta mampu menempatkan dirinya menjadi “Rahmatan Lil Al`Alamin”.

Selain itu organisasi merupakan salah satu sistem penting dalam kehidupan berdemokrasi dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara yang mempunyai skala prioritas menciptakan dan bertujuan menghasilkan individu yang kompeten, intelektual, dan kapabilitas dalam menjalankan roda kehidupan demokrasi tersebut dan juga sebagai sarana untuk menjembatani kepentingan mahasiswa Bima di UIN Malang, masyarakat umum, khususnya dou labo dana mbojo.

Secara langsung organisasi dituntut untuk bisa memberikan nilai-nilai lebih dalam menyikapi keberadaan kondisi bangsa kita sekarang ini secara khusus berada di tataran lokal. Disatu sisi, Mahasiswa/pemuda berperan sebagai generasi yang menjadi tonggak estafet pembangunan daerah, disisi lain Organisasi Kedaerahan juga mempunyai fungsi social control dalam mengawasi kinerja dari pemerintah daerah dan perlu mendapat legitimasi serta pengakuan dari pemerintah tersebut demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur.

Oleh sebab itu, mengingat pentingnya peran Organisasi Kemahasiswaan yg bersifat Kedaerahan dlm menjembatani dari berbagai persoalan dan kebutuhan serta memberikan solusi atas persoalan yang ada, maka diperlukan adanya suatu wadah dalam menampung aspirasi ini dan nantinya akan disahkan atau dilegalitaskan sampai pada generasi-generasi selanjutnya.

Dengan demikian hendaklah kita semua bersatu atas nama mahasiswa Himpunan Mahasiswa Bima UIN Malang dengan satu hati, Satu visi dan satu tujuan untuk dou labo dana yg lebih baik. Akhirnya, kami dan terkhusus saya pribadi mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya atas kepercayaan dan amanah yang telah di percayakan kepada kami, insya allah kami akan melaksanakan segala amanah dan tanggung jawab ini dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. mengutip dari tulisan mahatma gandhi bahwa Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki,,,
wassalamu 'alaikum wr.wb.

Salam Himpunan.
Imamuddin

Jumat, 01 Desember 2017

Pengabdian Sebagai Aksi

Pengabdian Sebagai Aksi
Posisi atau jabatan seseorang dalam organisasi akan selalu berkaitan dengan wewenang dan tanggung jawab orang tersebut dalam organisasi. Semakin tinggi posisi seseorang dalam level jabatan di organisasi, akan memiliki tanggung jawab dan wewenang yang semakin besar. Semakin besar disini artinya semakin luas pengaruh yang ditimbulkannya sebagai akibat dari penggunaan tanggung jawab dan wewenangnya. 

Melalui jabatan yang lebih tinggi seseorang dapat menggunakannya untuk dampak yang lebih luas. Itulah sebabnya jika seseorang dengan jabatan lebih tinggi dan melakukan pengabdian lebih baik, akan memberikan dampak yang lebih luas pada organisasi, dan akan dapat mempengaruhi para bawahan melalui pemberian teladan.Di organisasi apapun,termasuk organisasi kedaerahan selalu memerlukan adanya pengabdian dari orang-orang yang ada di dalam organisasi tersebut. Hal ini disebabkan, karena tidak mungkin organisasi dapat berkembang jika orang-orang yang ada di organisasi semuanya berpikiran transaksional. Mengapa demikian? Karena organisasi tidak akan mampu mengawasi seluruh perilaku orang-orang yang ada di organisasi, organisasi juga tidak dapat memerintahkan kepada orang-orang di dalam organisasi untuk melakukan pekerjaan diluar keharusannya. Pengabdian merupakan suatu sikap dan perbuatan yang melaksanakan pekerjaan tanpa mengharap adanya imbalan apapun, kecuali hanya untuk dapat menyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin. Dalam mencapai hasil sebaik mungkin tersebut ada kemungkinan seseorang harus bekerja lebih dari yang seharusnya dilakukan. Jika memang ada imbalan dari pekerjaan itu, maka imbalan itu bukan menjadi tujuan bekerja, lebih dianggapnya sebagai bonus dari hasil pekerjaan yang dilakukannya.

Pengabdian selalu didasari adanya kecintaan, kecintaan timbul karena adanya pemahaman dan keterlibatan. Melalui pemahaman dan keterlibatan inilah kemudian akan tumbuh kecintaan. Kecintaan kemudian dapat menimbulkan berbagai sikap positif lain. Keberanian dan keikhlasan merupakan sikap-sikap yang hanya bisa muncul karena kecintaan. Dengan keberanian dan keikhlasan tersebut itulah kemudian timbul pengabdian.

Melalui sikap keberanian kemudian mempengaruhi seseorang dalam melaksanakan pekerjaan. Seseorang dengan keberanian yang baik, akan memiliki inisiatif yang baik. Akan memiliki kepercayaan diri yang baik, oleh karenanya produktifitas yang dihasilkannya juga akan tinggi. Seseorang dengan keikhlasan dalam bekerja akan memiliki hasil yang lebih hebat lagi. Sikap dan perilaku kerjanya yang dianggapnya sebagai ibadah membuatnya bekerja tanpa pamrih, kondisi ini mendorong perilaku kerja yang tidak asal, perilaku kerja yang tidak kenal pamrih, sehingga menimbulkan perilaku kerja yang tidak kenal lelah. Perilaku kerja seperti ini tentu akan meningkatkan produktifitas tinggi dalam organisasi.

Pengabdian selalu berkaitan dengan upaya mengambil tanggung jawab lebih dari kewajiban yang seharusnya dilakukan. Pengabdian juga selalu berkaitan dengan sikap yang lebih menomor duakan kepentingan sendiri dibandingkan dengan kepentingan bersama atau kepentingan organisasi. Pengabdian juga selalu jauh dari pamrih-pamrih material, hubungan transaksional, dan kebencian. Itulah sebabnya pengabdian dapat terjadi dimanapun posisi atau jabatan orang tersebut berada. Para pemimpin harus menteladankan pengabdian ini bagi siapapun di dalam organisasi, para pemimpin harus mampu merubah jargon-jargon tentang pengabdian menjadi tindakan-tindakan nyata yang dapat dilihat dampaknya. oleh karena itu para pemimpin harus menumbuhkan kecintaan pada orang-orang di dalam organisasi terhadap pekerjaan, profesi, rekan-rekannya dan organisasinya. Semakin banyak orang yang mencintai organisasi, semakin banyak orang yang memahami apa yang menjadi misi organisasi, semakin banyak orang memahami tentang manfaatnya dalam organisasi, maka akan semakin tinggi pula kemungkinan seseorang untuk memiliki sikap dan perilaku mengabdi. Jargon atau moto tentang bekerja adalah ibadah, ikhlas beramal, pahlawan tanpa tanda jasa merupakan jargon-jargon yang bertujuan untuk memotivasi tumbuhnya pengabdian dimanapun orang tersebut berada dan berperan dalam organisasi, tidak harus menunggu ketika seseorang mendapat jabatan tertentu.

Akhirnya, saya tetapkan HIMPUNAN MAHASISWA BIMA UIN MALIKI Malang sebagai ladang pengabdian itu, membangun ukhwah islamiyah yang hakiki, berdasar kepada nilai serta norma yang dijunjung tinggi dalam masyarakat pada umumnya, terkhusus dou dana mbojo.

Jumat, 24 November 2017

Selamat Hari Guru (Sang Lentera).

                                                      
                                               Selamat Hari Guru (Sang Lentera)

Mengawali tulisan ini, ananda sampaikan salam hormat kepada ita doho kaso ta. semoga Allah senantiasa memberi kebaikan, kemudahan, serta keberkahan atas ita doho kaso.aamiin.
Kehidupan yang harus mengalami kemajuan, menuntut setiap insan untuk terus berjuang agar tetap bertahan dalam kompetisi hidup yang semakin tajam. Ilmu dan keahlian seakan menjadi senjata untuk dapat bersaing dengan jutaan insan lainnya. Keimanan dan ketaqwaan seakan menjadi tameng yang akan melindungi diri dari hambatan dan rintangan yang senantiasa menghadang. Keahlian dan kesuksesan seorang insan tidak akan lepas dari proses belajar yang memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Dibalik suksesnya seorang insan, ada sosok berhati malaikat yang senantiasa sabar dan ikhlash mengajarkan berbagai hal tentang hidup ini. Dialah “Guru sang pahlawan tanpa tanda jasa.
Kami yakin akan ada cahaya yang menerangi dunia gelap kami, akan ada butiran air yang akan menghidupkan hati kami yang mati. Sosok yang sangat kami hormati dan sayangi, dan Bapak/Ibulah yang menjadi sosok itu.

Guruku, Jejak pengabdianmu tak kan pernah terhapus oleh sejarah. Budi luhurmu tak akan pudar oleh peradaban. Semangat juangmu tak kan luntur oleh keegoisan. Ilmu yang telah engkau berikan akan senantiasa membukakan gerbang pahala di hari penghisaban nanti. Walau proses kita berjumpa hanya sebentar saja, proses mengenal hanya segelintir waktu saja. Tapi ikatan yang kita ciptakan tak akan pernah lapuk oleh jarak dan waktu yang memisahkan. Raga boleh terpisah, namun jiwa tetap saling berjumpa di dalam doa.

Guruku, Tetaplah menjadi pribadi yang kuat bagaikan batuan karang yang terus dihantam ombak. Tetaplah menjadi pribadi yang lembut ibarat kapas, dan tetaplah berjuang mengikis krisis moral, kemiskinan dan kebodohan dengan semangat juang Bung Tomo. Jadikanlah profesi ini menjadi investasi abadi untuk akhirat nanti. Semoga Allah menjadikan setiap tetes air matamu yang jatuh karena perbuatan kami menjadi sungai untukmu di syurga nanti. Seribu kata tak mampu menggambarkan kebaikanmu. Tapi satu doa dapat membalas secercah kebaikanmu. Terima kasih atas jasa-jasamu, terima kasih atas segalanya.
hormat ananda. (imamuddin).

@Malang, 24-11-2017
@Ruang kelas B.109.
@Hari Guru Nasional.

Jumat, 27 Oktober 2017

MENJIWAI SEMANGAT SUMPAH PEMUDA.


                                            MENJIWAI SEMANGAT SUMPAH PEMUDA.

Pemuda memiliki semangat tinggi untuk melakukan perubahan. Energi positif itu terpancar ketika mereka melihat suatu kejanggalan pada bumi pertiwi. Pola pikir dan daya analisis yang tinggi terhadap masalah bangsa membuat mereka merasa terpanggil untuk melakukan percepatan perbaikan tanah air menuju ke arah yang lebih baik. Lalu, melihat realita sosial saat ini, apa yang bisa mereka lakukan? Persaingan global yang semakin panas ditambah pesatnya perkembangan dunia teknologi membuat ekonomi kita semakin jauh tertinggal. Tayangan televisi yang tidak mendidik justru semakin marak disiarkan. Banyak generasi muda kita yang terjerumus ke dalam lembah kebodohan hanya karena tidak mampu memilah tayangan yang layak ditonton.

Saat ini indonesia mengalami krisis karakter, berbagai permasalahan melanda indonesia,salah satunya adalah degradasi moral , pengaruh narkoba, korupsi kolusi dan nepotisme seakan sudah terbiasa, hal tersebut karena hampir setiap hari berita ini ditayangkan televisi dan surat kabar. Hal inilah yang menyebabkan indonesia hanya maju ditempat, sedangkan negara lain terus mengembangkn potensi pemuda dan generasi penerusnya yang siap bersaing dalam era globalisasi dan mempunyai ilmu dan pengetahuan yang berperan dalam kancah internasional.

Melalui tulisan ini penulis mengajak kepada pembaca, marilah kita sbg pemuda Indonesia menjaga diri serta membentengi diri kita dengan ilmu dan pengetahuan yang dapat membawa kemajuan dalam diri kita dan bangsa indonesia, baik prestasi akademik, non akademik. Dan pemerintah harus berperan aktif dalam melindungi generasi muda terhadap pengaruh negatif era globalisasi, dengan membuat kebijakan dan mengambil keputusan yang lebih mendukung generasi muda indonesia dalam mengaktualisai potensi untuk membawa kemajuan bagi bangsa indonesia.

Jika kita menyusuri sejarah bangsa ini, kita akan bertemu generasi 1900-an yang mempelopori kebangkitan nasional dengan terbentuknya Boedi Oetomo sebagai organisasi yang boleh dikatakan sebagai titik awal terbentuknya organisasi yang bersifat nasional. Dilanjutkan dengan perjuangan generasi 1928 yang berhasil mempelopori persatuan nasional melalui Sumpah Pemuda. Lalu, kita akan bertemu dengan generasi 1945 yang mempelopori perjuangan kemerdekaan dan generasi 1966 yang berhasil mengakhiri rezim Orde Lama. Semua angkatan itu silih berganti sampai datang angkatan 1998 yang mampu menumbangkan rezim Orde Baru. Rangkaian sejarah ini menjadi bukti bahwa peran pemuda sangat dinantikan untuk percepatan perbaikan bangsa. Mereka bersatu dengan meluruskan akhlak dan niat untuk menuju perbaikan Indonesia. Mereka bergerak di bawah kepemimpinan yang jelas dan terarah. Mereka bersatu padu seperti seikat sapu lidi yang mampu membersihkan sampah-sampah yang berserakan. 

Akhirnya, Pemuda adalah harapan bangsa. Kelak ia yang akan menahkodai bangsa ini. Semua tergantung dari seberapa besar pengorbanan yang akan ia persembahkan. Kita hanya bisa berharap semoga ia mampu memaksimalkan kinerjanya masing-masing untuk memajukan bangsa ini.aamiin.

Malang, 27 oktober 2017 ( H - 1)
Kamar 24 (MSAA)

Jumat, 29 September 2017

Tentang Bapak


                                                                               BAPAK
Sosok ayah juga guru bagiku. mengisi setiap celah dalam kisah perjalanan hidup ini, Hingga kata ini ku tulis pun, masih timbul suatu pertanyaan, apalah jadinya diri ini jikalau terlepas dr pengawasannya.

satu hal yang selalu saya perhatikan, Setiap tahun, tepatnya di 1 syawal, murid2 beliau datang silih berganti, dari pagi hingga malam, sekedar menanyakan kabar serta rentetan kisah hikmah lainnya. Beliau sangat di kenang dan dicintai, terlihat dari cara mereka bercengkrama, saling menasehati dan mengingatkan satu sma lain, memotivasi lewat sejarah kehidupan dan sederet untaian hikmah lainnya.

Dalam ingatanku, sudah 7 tahun beliau pindah dari madrasah tempat beliau awal mengabdikan diri, namun para murid masih mengingat dan menyempatkan diri bertamu, mulai dari yang sdh berpangkat hingga yang masih dalam jenjang pendidikkadang saya bertanya2, apa yang beliau lakukan hingga begitu di cintai. Pernh sesekali beliau mengeluarkan statement bahwa cara beliau mengajar d madrasah sama dengan yang di terapkan d rumah(rahasia).saya cukup mengerti apa yan beliau sampaikan waktu.

KERAS,TEGAS,DISIPLIN,OPTIMIS,PEKERJA KERAS adalah kata yang patut disematkan pada pribadi beliau(subjektif).hal ini bukan tanpa alasan yang mendasar. saya yakin teman2 pembaca jg memiliki kriteria khsus untuk sosok bapaknya. kriteria itu lahir dlam keseharian yang dijalani bersma, Gambaran yang membekas nyata dalam skenaria kehidupan tiap keluarga. itu yang kurasakan. semoga orang tua kita menjadi jalan penghubung dengan cinta yang sejati, cinta pada sang maha pencipta, pemilik cinta, suatu materi yang tiada pernah habis, bahkan ketika seluruh makhluk mengharap cinta itu.

@obat rindu.
@sekelumit.
@kamar24ibnurusyd
@30.9.2017

Senin, 28 Agustus 2017

Antara Ilmu, Amal,dan Benih Kesadaran


ILMU,AMAL, DAN BENIH KESADARAN

Taburlah benih kebaikan dan tumbuhkanlah benih kesadaran. Tidak banyak memang para pejuang yang bisa merasakan kemenangan atas hasil perjuangannya. Akan tetapi, itu bukan berarti harus berhenti melakukan sesuatu dan memperjuangkannya. Hidup ini menjadi sederhana saat kau mengetahui bahwaa semua ini hanyalah tentang kita, mengisi hari sesuai dengan alurnya, menanam benih kebaikan dalam setiap langkah perjuangan .Benih kebaikan itulah yang kemudian memberatkan timbangan amal, melancarkan langkah menuju jannah(surga).

Jangan salah, apa yang kita nikmati sekarang adalah benih yang telah ditaburi para pendahulu. Harusnya kita menyadari akan hal tersebut agar generasi selanjutnya bisa menikmati aktivitas kebaikan dan berbagai proses ketaatan dengan tenang dan lapang.

Sebagai kader perjuangan bangsa, kita harus mewarisi proses yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Dalam hal ini ada 3 proses penting yang harus dilakukan yaitu MENABUR, MEMBESARKAN, dan MENGUATKAN. Menabur benih kebaikan untuk memberi pijakan awal inspirasi kepada generasi selanjutnya untuk dibesarkan dan dikuatkan atau hanya membesarkannya saja atau mungkin hanya ikut menguatkan saja. Semuanya adalah pilihan, pilihan untuk diambil salah satunya, bukan untuk ditinggalkan.

Ketahuilah, berilmu saja tidak cukup, kita harus beramal. Hidup tidak akan menjadi lebih baik saat kita mengetahui saja, akan tetapi harus dilakukan. Melakukan sesuatu akan menghadirkan(menghasilkan) sesuatu. Orang bijak mengatakan, apa yang kau tanam, itu yang kau tunai. Jika mengetahui dan tidak dilakukan, itu sama saja dengan berdiam diri. Dalam ungkapan lain, dikatakan bahwa dunia ini berubah menjadi lebih baik bukan karena banyaknya orang yang berpengetahuan melimpah. Akan tetapi karna mereka melakukan dari hasil pengetahuan yang mereka miliki. Artinya ADA AKSI, TIDAK HANYA BERTEORI.

Mengutip pendapat Hasan Al Banna : Didunia ini, dari banyaknya jumlah manusia, hanya sedikit saja dari mereka yang sadar. Dan dari sedikit yang sadar itu, hanya sedikit saja yang berislam. Dan dari mereka yang berislam, jauh lebih sedikit lagi yang berdakwah. Dari mereka yang berdakwah, jauh lebih sedikit lagi yang berjuang. Dari sedikit yang berjuang, jauh lebih sedikit yang bersabar. Dan dari sedikit yang bersabar itu, hanya sedikit saja dari mereka yang sampai akhir perjalanan(istiqomah).

Suadara, Ketika kita dihadapkan pada keburukan, maka menjadi keharusan untuk menghentikannya, jika tidak maka keburukan akan merajalela. Saat kita mendiamkan perkara tersebut, kita pun ikut berdosa, Dosa karna tidak melakukan apapun, dosa karna tidak menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
Saudaraku, saat kita tidak peduli padahal memiliki kemampuan untuk amar ma’ruf nahi munkar, maka perlu kiranya untuk kita berkaca pada firman Allah SWT, sebagai bahan perenungan sekaligus peringatan untuk kita semuanya :

Tahukah kamu orang yang mendustakan agama ? mereka adalah orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Maka celah bagi orang2 yang sholat, yaitu orang2 yang lalai dari sholatnya, orang2 yang berbuat riya dan enggan membantu dengan barang yang berguna. (QS. Al Maun). Allahu a'lam.

Semoga bermanfaat. Aamiin.
@muhasabah

PESONA BIMA

                                                   PARIWISATA DAN POTENSINYA
                                                   Oleh : Sang Timur (ibnu abdul khalik)

Pembangunan daerah merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional yang tidak dapat dilepaskan dari prinsip otonomi daerah. Untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah tersebut dibutuhkan kewenangan yang luas, nyata, dan bertanggung jawab di tiap-tiap daerah . Pembangunan yang direncanakan tersebut harus berjalan seiring dengan harapan dan cita cita masyarakatnya, sehingga diharapkan program yang dijalankan mendapatkan dukungan dari masyarakat dan meraih hasil yang maksimal.

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwasanya bangsa Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki berbagai macam potensi pariwisata, baik wisata alam maupun wisata budaya karna Indonesia mempunyai bermacam macam suku, adat istiadat, dan kebudayaan serta karena letak geografis negara Indonesia sebagai negara tropis yang menghasilkan keindahan alam dan satwa. Hal ini tentu memberi ruang bagi setiap daerah, termasuk KOTA/KABUPATEN BIMA untuk mengembangkan potensi daerahnya sekaligus mempublikasikan kepada khalayak tentang potensi yang ada. 

Berkaca pada wilayah indnonesia yang sangat luas serta didukung sumber daya alam yang beraneka ragam yang berpotensi untuk diolah dan dimanfaatkan juga kekayaan akan seni budaya daerah, adat istiadat, peninggalan sejarah terdahulu dan yang tidak kalah menarik adalah keindahan panorama alamnya yang cukup potensial untuk dikembangkan dengan baik, Menunjukkan bahwa terrnyata pariwisata dapat diandalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dan pembangunan secara nasional. 

Jika kita perhatikan dengan baik, Sebenarnya banyak objek wisata yang ada di KOTA/KABUPATEN BIMA yang sangat menarik dan belum tersentuh oleh tangan manusia,. Oleh sebab itu dibutuhkan peran pemerintah dan masyarkat terkait untuk ikut berperan aktif mengembangkan dan mempromosikan potensi local yang tersembunyi tersebut. Adanya departemen kebudayaan dan pariwisata juga akan memperlancar tujuan yang dimaksud, tinggal bagaimana pemerintah selaku pemangku kekuasaan tertinggi didaerah bersama sama dengan masyarakat dalam menyikapi potensi yang ada.

Pada intinya pariwisata adalah fenomena yang unik dimana wisata menjadi intinya. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagai dari kegiatan tersebut yang dilakukan oleh wisatawan (sebutan bagi orang yang melakukan kegiatan tersebut) secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata. Pariwisata merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengusahaan obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usahanya yang terkait dibidang tersebut yang pada pada dasarnya mengandung beberapa unsur yaitu: Manusia, baik sebagai pelaku maupun sebagai penyedia jasa,, Kgiatan dengan beragam tujuan atau motivasi perjalanan serta Interaksi antara wisatawan dengan wisatawan, wisatawan dengan tuan rumah, dan wisatawan dengan penyedia jasa.
Secara sederhana pariwisata adalah kegiatan dinamis manusia dalam mengisi waktu luangnya dengan hal hal yang menyenangkan termasuk berwisata dengan motivasi kultural. Saat berwisata, wisatawan tentunya ingin dilayani untuk memenuhi kebutuhan dan keinginanya. Mereka melakukan kontak sosial terutama dgn tuan rumah dan penyedia jasa. Interaksi sosial dan multikulturalisme menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari dan lintas budaya pun menjadi kondisi yang tidak bisa dipungkiri apalagi dengan pergerakan kegiatan wisata yang mengarah pada globalisasi maka lintas budaya pasti akan terjadi di tengah masyarakat.

MEMAKNAI 17 AGUSTUS


MAKNA 17 AGUSTUS
Tepat 72 tahun silam, seorang tokoh nasionalis, sosok yg berani dalam bertindak, cerdas dalam berfikir, bijak dalam mengambil keputusan serta dewasa dlm memandang masa depan. dialah Ir. Soekarno,, sang proklamator, memproklamirkan hadirnya sebuah bangsa baru. Suatu bangsa yg hari ini kita cintai bahkan nyawa menjadi harga atas peneguhannya.
Hari itu, betapa gelora semangat membuncah dalam dada rakyat bangsa ini. MERDEKA, suatu kata sakral yg tidak bs d takar, hidup atau mati merupakan pilihan dlm menjaga marwahnya. suatu kata yg telah di bayar dgn darah para pejuang, merekalah generasi terbaik hingga akhir perjuangam bangsa ini.aamiin.
Suasana pembacaan teks proklamasi pd waktu itu bukan berarti tanpa halangan. betapa tidak, tentara jepang dengan senjata yg mereka miliki ttp memberi tekanan kpd rakyat indonesia. Namun dengan semngt MERDEKA atau MATI yg telah melekat kuat dlam hati serta lisannya menjadikan mereka kecil dlm memandang kematian, bginya kematian adalah tabir pemisah antara mereka dgn surga, Baginya kemerdekaan merupakan awal peradaban, terutama bagi keberlanjutan hidup anak cucu mereka di masa depan.
kini kita telah hadir sbg buah perjuangan 72 tahun yg silam itu. Kita menjadi sebab kenapa darah rela d tumpahkan, kita menjadi sebab perjuangan waktu itu harus terus d kobarkan. sadarkah engkau saudaraku,, betapa mahalnya harga untuk menebusmu? betapa pentingnya hadirmu di masa ini. tiada lain tujuannya, yaitu untuk mengisi kemerdekaan dgn sebenar- benarnya,,, mengisi tdk sekedar mengisi, namun mengandung makna perjuangan sebagaimana yg termaktub dlm UUD 1945.
Hari ini, perayaan kemerdekaan begitu meriah ku saksikan,, ada yg dgn syukuran, lomba dgn berbagai pernak pernik hiburan, bahkan berkicau ria dlm dunia massa menjadi hal biasa,, fenomenal tersebut kian trulang dlm rutinitas tahunan bangsa ini. Terlintas dlm fikiran,, sudahkah cara itu benar dlm memperingati hari bersejarah tersebut? tidakkah ini berlebihan atau mungkin masih kurang, Entahlah,, kiranya hal tersebut kita kembalikan kpd kacamata pembaca. pesannya,, bijaklah dlm menilai dan adillah dlm pelaksanaan.
semoga kita termasuk generasi yg diharapkan oleh buah perjuangan 72 tahun silam. semoga !!!.
semoga berkah manfaat,aamiin !!!.
mohon kritikan dalam kebaikan. Tujuannya jelas, maka manfaatkanlah.
@18-8-17
@disela waktu ta'ruf ma'hadi.
@sangtimur
@santrihits.
@MSAA.

TERUS PERBAIKI KUALITAS DIRI

TERUS PERBAIKI KUALITAS DIRI
Rahasia investasi tersukses adalah investasi pada diri sendiri. Berinvestasi pada diri sendiri adalah belajar terus menerus seumur hidup. Hal tersebut bisa dilakukan dengan membaca buku, majalah, Koran, jurnal, maupun menghadiri kegiatan keilmuan lainnya. Membangun hubungan dengan orang sukses juga merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan, singkatnya, kita harus terus menerus melakukan pembaruan/perbaikan kualitas diri.
Belajarlah sebanyak yang kita bisa mengenai kehidupan dan dunia yang penuh teka teki dimana kita hidup didalamnya. Kita ketahuai, diluar sana banyak sekali buku yang ditulis oleh orang2 hebat. Baca dan berkembanglah, percayalah setelah semua pemgetahuan itu ada ditangan maka kita tidak akan lagi membutuhkan jaminan kesuksesan yang lebih dari hal tersebut. Didiklah diri kita sendiri , ketika kita melakukannya, maka sebenarnya kita telah berinvestasi pada diri sendiri. Hal tersebut adalah investasi terbaik yang bisa kita lakukan dalam hidup dan kehidupan ini.
Saudaraku yang kucintai, jika kita menginginkan suatu hal yang berlebih maka kita harus memiliki keinginan untuk menjadi yang terbaik. Berhenti mengeluh, maju sedikit demi sedikit, dan lakukan semua yang harus dilakukan. Satu hal yang perlu kita sadari, bahwasanya setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan tentu saja pernah tersandung serta jatuh berkali kali. Saat seperti itu, mulailah untuk menyalahkan diri sendiri, jangan pernah menyalahkan situasi, orang lain atau bahkan takdir Allah SWT. Salahkanlah dirimu sendiri, percayalah selalu tersedia tempat yang tinggi untuk seseorang yang menerima tanggungjawab atas tindakannya.
Saudaraku,, semua orang sukses dalam meraih kesuksesannya melalui proses panjang, penuh suka duka kehidupan. Kita lihat bagaimana baginda Nabi Muhammad dalam prosesnya, dikucilkan, ditertawakan , diolok olok bahkan sampai pada kekerasan. Jadi jangan khawatir jika kita di hina, ditertawakan atau di tinggalkan pada suatu titik dalam perjalanan perjuangan kita. Balas dendam yang baik adalah dengan bukti KESUKSESAN.
Ketahuilah, hanya satu orang yang dapat membuat kita sukses. Orang itu adalah diri kita sendiri. Satu satunya orang yang dapat membuat kita pandai, cemerlang ataupun sukses adalah kita sendiri. Satu satunya orang yang dapat membuat kita meraih tujuan dan mimpi kita adalah kita sendiri. Yang lain, para guru, orang tua dan pemimpin hanya dapat berbagi pengetahuan ,ide dan kebijaksanaan. Tapi jika kita tidak mampu melakukan apapun dengan pengetahuan itu, kita kan tetap berjalan di tempat, akan akan tetap menghadapi maslah yang sama dari hari ke hari sampai kita berani mengambil keputusan untuk terus melangkah guna melakukan perbaikan kualitas diri.
Akhirnya penulis mengajak kepada pembaca untuk sama2 membaca doa yang diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad yang telah di riwayatkan oleh Imam Bukhari: “ ya Allah, aku berlindung padamu dari sifat ketidakberdayaan dan kemalasan”. Doa ini mengajarkan kepada kita tidak menerima ketidakberdayaan dan membuang jauh kemalasan. Mengajarkan kepada kita untuk pandai dlam memotivasi diri. Aamiin.
Semoga bermanfaat. Aamiin.
@muhasabah
@sangtimursape.

Sabtu, 28 Januari 2017

Upaya Melawan Kemungkaran

Pada kesempatan ini izin saya memberikan gambaran dalam menghadapi suatu kemungkaran.
Tulisan ini berdasarkan pada pengalaman hidup,,setuju tidaknya ,,saya kembalikan kepada pembaca.
Baik,,bagi petani atau anak petani tentunya pernah menjaga padinya dari ayam/burung (sejenisnya) saat proses penjemuran
Anggap saja padi adalah negara, ayam adalah perusak/penjahat ,dan petani adalah rakyat/masyarakat.
Ada 3 kategori gambaran dalam menghadapi kemungkaran yang akan saya jelaskan sesuai konteks diatas :
1. Dengan hati.
dalam hal ini saat petani menjaga padi, datang sekumpulan ayam memakan padi yang sedang di jemur. tindakan petani saat itu marah,kesal namun hanya dalam hatinya, samasekali tidak beranjak dari tempat duduknya. hingga padi habis termakan oleh ayam tersebut.
ini menggambarkan bagaimana rakyat diam saja ketika negaranya di grogoti oleh penjahat kemanusiaan,menghisap habis harta martabat bangsa dan lainnya.
2. Dengan suara.
dalam hal ini saat petani menjaga padinya , datang sekumpulan ayam memakan padi tersebut. tindakan petani ketika itu adalah mengusir ayam tersebut (tanpa berpindah dari tempat duduknya) dan ayampun terhentak kaget dan lari meninggalkan padi yang di jemur. namun tak lama berselang,, ayam datang kembali memakan padi jemuran,, begitu seterusnya.
ini menggambarkan kejahatan yang dilawan dengan orasi (semacamnya) tidak akan menjerahkan mereka. Perlu tindkan untuk itu.
3. Dengan perbuatan/tindakan.
dalam hal ini saat petani menjaga padinya,datang sekumpulan ayam memakan padi tersebut. tindakan petani saat itu adlah bangun dari tempat duduknya,kemudian mengejar ayam2 itu,,kemana ayam itu lari dia kejarrr hingga menjauh.
ini menggambarka bahwa kejahatan memank harus di selesaikan secara tuntas tanpa kebijakan yang longgar.tuntaskan sampai keakarnya diamana dan kapanpun berada.
Demikian gambaran singkat nan sederhana dari saya.
semoga pembaca bijak dalam menilai dan merusmuskan segala sesuatunya.
yang benar datangnya dari Allah dan Rasulullah
yang salah datangnya dari saya dan syaiton la'natullah.
semoga kebaikan menyertai kita semuanya,aamiin
@sangtimur_sape
@muhasabah
@menjelang asyar
@28-1-2016

Selasa, 17 Januari 2017

Tentang Kertas

"tentang kertas"
suci, putih,bersih itu aku.
terjaga pada waktunya.
juga hina pada masanya.
tergantung bagaimana aku di perlakukan.
kini aku mulai kusam, dengan bermacam isi didalamnya
penuh noda dan coretan.
haruskah ku berganti halaman untuk memulai yang baru?

ku kira tidak,, itu akan sama saja.
hanya akan memperbanyak kertas kusam.
lari dari kesalahan tanpa usaha memperbaiki adalah dosa.
memberikan nilai positif akan menghapus noda hitam
memberi isi yang bernada indah hingga tercipta lagu yang merdu untuk di dengarkan.
aku sadari, menyerah adalah kebodohan dalam berpikir,
sedang perbaikan adalah keharusan dalam bertindak.
kini aku lebih baik, penuh dengan angka dan huruf.
membentuk nada dan lagu yang indah.
suatu hari nanti akan ku nyanyikan untukmu...
@fakir-dhoif
@sang timur_Sape

Minggu, 08 Januari 2017

KEKUASAAN DAN MORALITAS PENGUASA

KEKUASAAN DAN MORALITAS PENGUASA
Globalisasi mempengaruhi kehidupan umat manusia. Menutup diri darinya berarti siap tertinggal dengan segala gemerlap teknologi yang kian maju.akibatnya mau tidak mau masyrakat harus ikut masuk didalamnya dengan berbagai tujuan dan kepentingan.
Pengaruh dengan adanya globalisasi mulai nampak pada perubahan gaya hidup,dari yang bersifat sederhana hingga pada hal yang kompleks.Tatanan kehidupanpun ikut bergeser seiring dengan berubahnya pola hidup masyarakat.
Hal yang menarik adalah ketika kekuasaan menjadi harta karun di siang bolong oleh oknum yang gagal menyikapi globalisasi. Mereka berlomba-lomba memburu kekuasaan sebagai status sosial tertinggi dalam masyarakat. mendapat penghormatan dan kemuliaan terlebih kehidupan yang di hiasi gemerlap dunia.
Seiring dengan perputaran waktu, Kemuliaan yang didapatkan oleh penguasa tidak sebanding dengan keadaan masyrakatnya. Terpinggirkan dengan berbagai problematika kehidupan disandang oleh masyarakt kecil.Mereka menjadi korban dari moralitas penguasa dengan kekuasaa publik sebagai alatnya.
Hakekat kekuasaan yang sebenarnya mengayomi serta mengangkat harkat dan martabat masyarakat kian memudar bersaama dengan moralitas penguasa yang rakus.Hal ini menjadi problematika nasional yang patut kita sikapi dengan serius
Kita tidak bisa menutup mata dengan kondisi masyarakat yang semakin terpuruk, tertinggal dalam segi ekonomi ,rendah dalam pendidikan, serta budak dalam status sosialnya. ini adalah gambaran wajah ibu pertiwi yang terus di wariskan oleh kegagalan moralitas kekuasaan .
Menyikapi permasalahan itu,, bagaimana langkah konkrit kita sebagai tunas bangsa yang sejatinya akan memegang tongkat kepemimpinan di masa depan ??
ANDA adalah JAWABAN nya!!!.. Tanyakan dirimu,,SIAP atau TIDAK.

PERANAN IMAN DAN ILMU .

PERANAN IMAN DAN ILMU DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN.
segala bentuk tindakan akan dimintai pertanggung jawaban.
dalam kata lain ada sebab maka ada akibat.Demikian ucapan yang sering terdengar dlm keseharia.
Dalam istilah lain juga disebutkan apa yg kita tanam itu yang kita tuai. Masih banyak sederet istilah lainnya sbg bahan perenungan.
namun bukan itu yang menjadi tema besar kita.
Istilah2 sebagaimana tersebut diatas memberi edukasi kepada kita untuk lebih hati- hati dalam bertindak,terutama dalam mengambil keputusan/kebijakan. Dalam hal ini saya membidik pemimpin umat yang notabenenya sangat berpengaruh terhadap orang banyak.
bagaimana tidak. mereka yang selalu di hadapkan dengan persoalan rakyatnya membutuhkan pikiran yang jernih serta berwawasan luas dalam mengambil keputusan/kebijakan sehingga tidak terjadi tindakan amoral/anarkis yang merugikan masyarakat kecil.
Point penting yang patut di perhatikan oleh seorang pemimpin dalam mengambil keputusan tidak hanya di titik beratkan pada segi intelektualitasnya saja namun harus diimbangi oleh pemahaman agama yang mantap sehingga tercapai keputusan yang sesuai dengan norma- norma yang berlaku dalam lingkup masyarakat.
kesimpulan :
iman dan ilmu dalam pengambilan keputusan harus seimbang.
jika terhenti pada ilmu maka keputusan cendrung merugikan.
Demikian tulisan singkat dari penulis,, mohon masukan/kritikan yang membangun dari pembaca.semoga bermanfaat.

Jumat, 28 Oktober 2016

Rasa Cukup

Rasa cukup
Suatu keadaan yg tidak mudah oleh sebagian atau sekelompok org,,bahkn oleh individu itu sendiri.
Rasa cukup akan memiliki difinisi yg beragam seiring dgn banyaknya pandangan/sudut pandang di gunakan.
Dlm islam sendiri,, istilah itu biasa d sebut qona'ah. Hal yg memank harus dimiliki setiap muslim, baik si kaya ataupun si miskin. Menyampingkan syahwat duniawi dgn benteng iman dan taqwa.
Bagaimana sikap kita terkait qona'ah?.
Islam mengajarkan untuk bekerja keras,,melakukan segala sesuatunya dgn totalitas.
Persoalan hasil yg tdk sesuai harapan adalah rencana Allah. Sosok mukmin yg ta'at menyikapi dgn qona'ah,,meyakini bahwa yg Allah berikan adalah skenario terbaik dan kita pemeran utamanya.
Sikap itu kembali kepada iman dan taqwa... Semakin kuat imannya,,semakin kaya hatinya,,yg pada akhirnya mengantarkan pd mahabbah pd sang pencipta.
25-10-16

Kamis, 12 Mei 2016

MAF’UL MUTLAQ



المفعول المطلق
(MAF’UL MUTLAQ)
الكاتب : محمد عبد الجلال
Maf’ul mutlaq ialah masdar yang disebutkan setelah fi’il dari lafadznya, untuk mengukuhkan ma’nanya, atau menjelaskan jumlahnya, atau menerangkan macamnya, atau sebagai ganti mengucapkan fi’ilnya.
1.        Yang mengukuhkan ma’na fi’ilnya, seperti contoh :
وكلم الله موسى تكليماً (dan Allah telah berbicara kepada musa dengan langsung)
2.        Yang menjelaskan jumlahnya, seperti contoh :
وقفتُ وقفتين (saya telah berdiri dengan dua kali berdiri)
3.        Yang menjelaskan macamnya, seperti contoh :
سرتُ سيرَ العقلاء (saya telah berjalan dengan perjalanan seperti perjalanannya orang-orang yang berakal)
4.        Yang mengganti pengucapan fi’ilnya, seperti contoh :
صبراً على الشدائدِ (saya sabar dengan sesungguhnya terhadap beberapa kepayahan)
A.    MASDAR MUBHAM DAN MASDAR MUKHTAS
Masdar ada dua macam, yaitu :
1.        masdar mubham
2.        dan masdar mukhtas.
Masdar mubhan ialah masdar yang menyamai ma’na fi’ilnya tanpa tambahan dan pengurangan. Tetapi hanya untuk mengukuhkan atau sebagai ganti mengucapkan fi’ilnya. Seperti contoh :
a.       Yang untuk mengukuhkan :
قمتُ قياماً (saya telah berdiri dengan sungguh-sungguh)
ضربتُ اللصَّ ضرباٌ (saya memukul pencui dengan sungguh-sungguh memukul)
b.      Yang sebagai ganti mengucapkan fi’ilnya :
إيماناً لا كفراٌ (berimanlah dengan sesungguh iman dan janganlah kufur)
سمعاً و طاعةً (saya mendengar dengan sesungguhnya dan taat dengan sesungguhnya)
Karena ma’nanya adalahامنْ و لا تكفرْ  , أسمعُ و أطيعُ 
Oleh karena itu masdar seperti ini tidak boleh ditatsniyahkan dan tidak boleh di jama’kan. Sebab masdar yang bertujuan mengukuhkan berstatus seperti mengulang fi’il. Dan masdar yang mengganti fi’il berkedudukan seperti fi’il itu sendiri. Karena itu diperlakukan sebagaimana fi’il dalam hal tidak boleh ditatsniyahkan dan tidak dijama’kan.
Masdar mukhtas ialah masdar yang melebihi ma’na fi’ilnya, dengan sebab masdar itu memberikan penjelasan tentang macam atau jumlahnya.
Contoh :
a.       Yang menjelaskan macam, seperti contoh :
سرتُ سيرَ العقلاء (saya telah berjalan dengan perjalanan seperti perjalanannya orang-orang yang berakal)
b.      Yang menjelaskan jumlah, seperti contoh :
 ضربتُ اللصَّ ضربتينِ أو ضرباتِ (saya telah memukul pencuri dengan dua kali pukulan, atu beberapa pukulan)
Masdar yang menjelaskan jumlah boleh ditatsniyahkan dan boleh dijama’kan tanpa ada perbedaan pendapat. Sedangkan masdar yang menjelaskan macam, maka yang benar boleh ditatsniyahkan dan dijama’kan. Hal ini disamakan dengan masdar yang secara sama’i dapat ditatsniyahkan dan dijama’kan, seperti lafadz : العقول (beberapa akal pikiran) الألباب (beberapa akal,beberapa hati) الحلوم (beberapa akal,kesopanan,kesantunan). Oleh karena itu dibenarkan juga mengucapkan : قمتُ قيامينِ (saya telah berdiri dengan dua macam cara berdiri) dengan maksud نوعينِ من القيامِ  (dua macam cara berdiri).
Bentuk masdar juga mempunyai kekhususan, yaitu dimasuki “al al-ahdiyah”, seperti contoh :قمتُ القيامَ  (saya telah berdiri dengan cara berdiri yang telah diketahui) dengan maksud القيامُ الذى تعهّدُ (berdiri yang telah diketahui) dan juga dengan “al al-jinsiyyah” seperti contoh : جلستُ الجلوسَ (saya telah duduk dengan jenisnya duduk), juga boleh disifati, seperti contoh : سعيتُ فى حاجتكَ سعياً عظيماً (saya telah berusaha memenuhi hajatmu dengan usaha yang maksimal), dan juga boleh dimudhofkan, seperti contoh : سرتُ سيرَ الصالحين (saya telah berjalan dengan perjalanan seperti perjalanannya orang-orang shaleh)
B.     MASDAR MUTASHARIF DAN MASDAR GHOIRU MUTASHARIF
Masdar mutasharif ialah masdar yang dapat dan boleh dinashabkan sebagai bentuk masdar, dan dapat juga berlaku sebagai fa”il, atau naibul fa’il, mubtada’, khobar, maf’ul bih, dan lain-lainnya. Masdar ini meliputi semua bentuk masdar, kecuali sedikit sekali. Macam ini akan diterangkan mendalam.
Masdar ghoiru mutasharif ialah masdar yang senantiasa dibaca nashab dengan status masdar atau maf’ul mutlaq dan tidak dapat dipindah kepada status i’rob yang lain. Seperti lafadz : سبحان , معاذَ , لبّيك , سعديك , حنانيك , دواليك , حذاريك  masdar-masdar ini akan diuraikan penjelasannya pada uraian mendatang.
C.    LAFADZ PENGGANTI MASDAR
Ada beberapa lafadz yang dapat mengganti masdar, kemudian lafadz tersebut diberi status hukum seperti masdar, yaitu dibaca nashab untuk menjadi maf’ul mutlaq . lafadz-lafadz tersebut ada 12 macam, yaitu :
1.        Isim masdar, seperti contoh :
سلمتُ سلاماً (saya telah mengucapkan salam dngan sungguh-sungguh mengucapkan salam)
2.        Sifatnya masdar, seperti contoh : 
أذكروا الله كثيراً (sebutlah allah dengan sebanyak-banyaknya)
3.        Dhomir yang kembalikepada masdar, seperti contoh :
فإنى اعذبه عذاباً لا أعذبه أحداً من العالمين (maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah aku timpahkan kepada seorangpun diantara umat manusia)
4.        Sinonim masdar, seperti contoh :
قمتُ وقوفاً (saya telah berdiri dengan sungguh-sungguh berdiri)
5.        Suatu masdar yang sama asal musytaqnya, seperti contoh :
واللهُ أنبتَكمْ من الأرض نباتاً (dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya)
6.        Lafadz yang menunjukkan macamnya masdar, sperti contoh :
قعدَ القرفصاءَ (ia duduk dengan berjongkok)
7.        Lafadz yang menunjukkan jumlah atau bilangannya masdar, seperti contoh :
فجلدوهمْ ثمانين جلدةً (maka deralah mereka yang menudu itu dengan delapan puluh kali dera)
8.        Lafadz yang menunjukkan arti suatu peralatan yang dipakai oleh masdar, seperti contoh :
ضربتُ اللصَّ عصاً (saya memukul pencuri dengan tongkat)
9.        Lafadz ما  dan أىُّ   yang berupa istifham, seperti contoh :
ما أكرمتُ خالداً (dengan apakah anda memulyakan kholid)
أىُّ عيشٍ تعيشُ (dengan kehidupan apa saja anda menghayal hidup)
10.    Lafadz ما  , مهما , dan أىَّ  yang berfaidah syarat, seperti contoh :
ما تجلسْ أجلسْ (dengan apapun jika anda duduk, maka saya pun akan duduk)
مهما تقفْ أقفْ (bila juapun anda berdiri, maka saya pun berdiri)
أىِّ سيرٍ تسرْ أسرْ (dengan manapun cara berjalan, jika anda berjalan maka saya pun akan berjalan)
11.    Lafadz  كل , بعض , dan أي  yang menunjukkan arti kesempurnaan, yang dimudhofkan kepada masdar, seperti contoh :
فلا تميلوا كل الميلِ (karena itu janganlah kamu terlalu cenderung kepada yang kamu cintai)
سعبتُ بعض اليعىِ (saya telah berusaha dengan sebagai usaha)
إجتهدتُ أي اجتهادٍ (saya telah bersungguh-sungguh dengan kesempurnaan kesungguhan )
Kedua Lafadz  كل ,dan  بعض ,pada hakikatnya termasuk lafadz yang menjadi sifatnya masdar yang berlaku sebagai pengganti masdar. Sebab lafadz tersebut dapat diperkirakan.
Sedangkan lafadh أي  disebut sebagai أي كمالية   karena lafadh itu menunjukkan ma’na kesempurnaan. Lafadh itu, jika terletak setelah isim nakiroh, maka statusnya menjadi sifatnya, seperti dalam contoh : خالد رجل أى رجل  (kholid adalah lelaki yang sempurna lelakinya) artinya bahwa  خالد  adalah seorang lelaki yang sempurnah sifat lelakinya. Kemudian jika lafadh  أى  terletak setelah isim ma’rifah, maka iya menjadi  حال , seperti dalam contoh : مررتُ بعبدِ اللهِ أى رجل   (saya telah berjalan melewati abdullah sebagai lelaki sempurna).
Lafadh أى itu tidak dipakai kecuali dimudhofkan, dan tentu sesuai dengan yang disifatinya, dalam status mudzakar dan mu’annasnya. Hal demikian dimaksudkan untuk disamakan dengan sifat-sifat yang terdiri dari isim yang musytaq, bukan jamid, slain dalam status  mudzakar dan mu’annas lafadh  أى  tidak perlu menyesuaikan.
12.    Isim isyaroh yang diisyarohkan kepada masdar, baik yang diikuti dengan masdar, seperti contoh :  قلتُ ذلك القولَ  (saya telah mengucapkan ucapan itu). Ataupun yang tidak diikuti dengan masdar, seperti contoh : هل اجتهدتَ اجتهاداً حسناً (apakah engku telah berijtihad dengan ijtihad yang baik?), kemudian dijawab dengan ucapan : اجتهدتَ ذلك  (saya telah berijtihad dengan ijtihad itu)

D.    AMILNYA MAF’UL MUTLAQ 
‘Amil yang mengamalkan maf’ul mutlaq ialah salah satu dari tiga macam ‘amil, yaitu :
1.        Fi’il taam yang muttashorif, seperti contoh :
أتقنْ عملكَ إتقاناً (kokohkanlah pekerjaanmu dengan sebaik-baiknya )
2.        Isim sifat yang keluar dari fi’il taam muttashorif, seperti contoh :
رأيتُ مسرعاً إسراعاً عظيماً  (saya telah melihatnya sebagai orang yang cepat dengan kecepatan yang besar)
3.        Masdarnya fi’il taam muttashorif, seperti contoh :
فرحتُ باجتهادك اجتهاداً حسناً (saya bergembira terhadap kesungguhanmu dengan kesungguhan yang baik)

E.     HUKUM-HUKUM I’ROBNYA MAF’ULMUTLAQ
maf’ul mutlaq mempunyai status hukum i’rob tiga macam hukum, yaitu :
1.        Wajib dibaca nashob.
2.        Wajib terletak setelah amil, bila untuk berfaidah menguatkan, jika untuk menunjukkan macam atau jumlah, maka boleh saja maf’ul mutlaq dituturkan sebelah amil ataupun sesudahnya,kecuali jika maf’ul mutlaq itu berupa istifham atau isim syarat, maka wajib didahulukan atas amil, sebagaimana diketahui dalam contoh-contoh terdahul, hal ini disebutkan karena isim istifham dan isim syarat mempunyai ketentuan diawal kalimat.
3.        Amilnya boleh dibuang jika berupa maf’ul mutlaq yang menunjukkan macam atau jumlah karena ada bukti atau qorinah yang menunjukkannya, seperti contoh : ما جلستَ ؟ (apakah engkau tidak duduk), kemudian jawabnya بلى جلوساً طويلاً  (ya, betul dengan duduk yang lama) , atau بلى جلستين  (ya, betul dengan kali duduk)
Adapun masdar yang berfaidah mengukuhkan, maka tidak boleh dibuang ‘amilnya menurut pendapat yang lebih benar dari madzhab ulama’ nahwu. Sebab, disebutkannya masdar  ta’kid itu bertujuan untuk menguatkan dan mengukuhkan, sedangkan membuang amilnya berarti menghilangkan majsud dan tujuannya.
Adapun masdar yang disebutkan untuk menggantikan fi’ilnya, artinya sebagai ganti mengucapkan fi’ilnya, maka tidak boleh menyebutkan amilnya, bahkan wajib dibuang, seperti contoh : ويل الظالمين  (sungguh celaka bagi orang-orang dholim).

F.     MASDAR YANG MENGGANTI FI’ILNYA
Masdar yang menggantikan fi’ilnya ialah masdar yang disebutkan sebagai ganti dari lafadh fi’ilnya. Masdar seperti ini ada tuju macam, yaitu :
1.        Masdar yang berfungsi sebagai amar (perintah), seperti contoh :
صبراً على الأذى فى المجد  (bersabarlah dengan sungguh-sungguh terhadap derita menghadapi keagungan)
بلهاً الشر , و بلهَ الشرِّ (biarkanlah keburukan , tinggalkanlah keburukan)
Lafadh بلهَ  kadang-kadang dilakukan pemakaiannya dengan dimudhofkan atau ditanwini, sebagaimana dimaklumi. Tetapi yang banyak dipakai sebagai isim fi’il amar yang memakai ma’nanya lafadh اتركْ  .
2.        Masdar yang berfungsi sebagai nahi (larangan), seperti contoh :
اجتهاداً لا كسلاً (bersungguh-sungguhlah, jangan malas)
صبراً لا جزعاً  (bersabarlah jangan berkelu kesah)
Masdar ini tidak dipakai dengan ma’na nahi kecuali mengikuti kepada masdar yang dimaksudkan untuk ma’na amar, sebagaimana diketahui.
3.        Masdar yang berfungsi sebagai do’a, seperti contoh :
سقياً لك و رعياً (mudah-mudahan anda mendapat siraman dan penjagaan)
نكساً للمتكبر (kehinaan bagi orang yang sombong)
Lafadh-lafadh yang berlaku tersebut, menurut imam sibawaih tidak boleh disamakan dengan yang lainnya, namun imam al-akhfasy membolehkan lafadh yaang lain disamakan dengannya. Tetapi hanya lafadh yang memang benar jika dilakukan untuk hal tersebut itu.
Masdar-masdar tersebut itu tidak boleh dipakai dengan dimudhofkan kecuali dalam kalimat yang menunjukkan ma’na buruk. Jika dimudhofkan, maka wajib dibaca nashob, seperti contoh :  بعدَ الظالم و سحقَهُ (sesungguhnys rahmat Allah bagi orang dholim sungguh binasalah dia). Dan tidak boleh di baca rafa’, karena kalau rafa’ statusnya sebagai mubtada’ yang tiada khobar. Jika tidak dimudhofkan, maka boleh dibaca nashob dan boleh dibaca rafa’ sebagai mubtada’, seperti lafadh :  عذاباً لهُ  dan  عذابٌ لهُ , tetepi lebih baik dibaca nashob. Apabila dima’rfattkan dengan  ال maka yang lebih baik adalah dibaca rafa’ sebagai mubtada’, seperti contoh : الخيبةُ للمفسد  (kerugian itu bagi orang yang berbuat kerusakan).
Diantara berbagai masdar yang dipakai untuk ma’na do’a ialah beberapa masdar yang pemakaiannya mengabaikan fi’ilnya, yaitu lafadz : ويلهُ , ويبَهُ (celakalah dia), ويحَهُ , ويسَهُ  (kasihan dia). Lafadh-lafadh tersebut dibaca nashob dengan fi’ilnya yang di abaikan (fi’il muhmal) atau dengan fi’il yang sema’na.
Lafadh  ويلَ , ويبَ adalah dua kalimat yang menakut-nakuti yang diucapkan ketika mencerca dan mencela. Dan lafadh , ويسَ  ويحَ dua kalimat yang menunjukkan kasih sayang yang diucapkan ketika mengingkari yang tidak bertujuan mencela dan mencerca. Tetapi untuk tujuan mengingatkan kesalahan. Kemudian lafadh-lafadh itu banyak dipakai sehingga menjadi lafadh yang menampakkan rasa taajub yang diucapkan oleh orang yang suka pada seseorang yang disukai atau di benci.
Apabila lafadh-lafadh tersebut dimudhofkan, maka wajiblah dibaca nashob dan tidak boleh dibaca rafa’. Sebab, jika rafa’ statusnya sebagai mubtada’ yang tiada khobarnya. Namun bila tidak dimudhofkan, maka boleh dibaca rafa’ dan boleh dibaca nashob. Seperti contoh :  ويلٌ لهُ  , ويحٌ لهُ  dan lafadh : ويلاً لهُ , ويحاً لهُ  tetapi yang lebih baik adalah dibaca rafa’.
4.        Masdar yang terletak setelah istifham, namun bertujuan mencela (tausikh) atau merasa heran(ta’ajub) atau merasa sakit(tauji’).
Yang bertujuan mencela, seperti contoh :
أجرعةً على المعاصى (apakah dengan keberanian melakukan kedurhakaan-kedurhakaan itu)
Yang bertujuan merasa heran, seperti contoh :
أشوقاً ؟ و لمّا يمضِ لي غيرُ ليلةٍ * فكيفَ إذا خبَّ المطيُّ بنا عشراَ (apakah dengan rasa rindu ? padahal bagi saya belum lewat selain hanya semalam. Bagaimana kiranya jikalau kendaraan telah melangkah dengan kami sepuluh malam)
Yang bertujuan merasa sakit, seperti contoh :
أسجناً و قتلاً واشتياقاً وغربةً * ونأيَ حبيبٍ ؟ إنّ ذا لعظيم (apakah dengan dipenjara , denan dibunuh, dengan rasa rindu, dengan mengembara, dan dengan jauh dari kekasih ? sesungguhnya yang demikian ini adalah amat berat rasanya)
Kadang kadang istilah dalam rangkaian susunan macam masdar tersebut, tidak disebutkan. Tetapi hanya diperkirakan, seperti ucapan penyair :
خمولاً واهمالاً ؟ و غيرُكَ موْلعٌ * بتثبيتِ اؤكانِ السِّيادةِ والمجدِ (apakah dengan tiada dikenal namanya dan dibiarkan tidak dipakai ? padahal selain anda sangat cinta mengokohkan sendi-sendi kepemimpinan dan keaagungan)
Dalam ucapan sya’ir diatas diperkirakan istifhamnya, kalau diucapkan berbunyi  أخمولاً ؟  dalam contoh ini, bertujuan untuk mencela.
5.         Beberapa masdar sama’i (مصادر المسموعة) , yang banyak pemakaiannya, dan telah ditunjukkan oleh beberapa tanda (qorinah) mengenai amilnya, sehimgga menjadi pepatah, seperti contoh :
حمداً لله وشكراً (aku sungguh memuji Allah dan bersyukur)
Kadang-kadang juga ditanyakan dengan pertanyaan : أتفعلُ هذا ؟  (apakah kamu melakukan hal ini), kemudian dijawab dengan ucapan : أتفعلُهُ وكراماً ومسرَّةً  (saya menlakukannya dan sungguh memalukan dan sugguh merasa senang)
Apabila lafadh حمداً وشكرا disendirikan, artinya diucapkan secara satu kata-satu kat sperti diucapkannya حمداً atau شكراً  , makadalam hal ini diperbolehkan menampakkan fi’il yang mengamalkannya, karena itu bleh diucapkan : احمدُ الله حمداً  (saya memuji kepada Allah dengan sungguh-sungguh memuji), atau : أشكرُ الله شكراً  (saya bersyukur kepada Allah dengan sungguh-sungguh bersyukur).
Sedangkan lafadh لا كفراً  ,tidak pernah dipakai kecuali dirangkai dengan ucapan حمداً وشكراً . Diantara macam masdar sama’i lagi adalah :  سبحانَ اللهِ (maha suci Allah dan maha bersih Allah dari segala yang tidak pantas baginya), dan juga : معاذاَ اللهِ   (aku berlindung kepada Allah). Kedua lafadz tersebut tidak pernah dipakai dalam percakapan kecuali dimudhofkan.
Diantara madar sima’i yang lain adalah lafadh حِجْرٌ  , penggunaan lafadh itu biasanya dikatakan kepada seseorang : أتفعلُ هذا ؟  (apakah kamu mengerjakan ini), kemudian dijawab dengan lafadh : حِجْراً  dengan memakai arti : منعاً بمعنى أمنع نفسى منه, وأبعِدُه , وأبرأُ منهُ  (aku mencegak diriku dari padanya, aku menjauhkan diriku dari padanya, aku membebaskan diriku dari padanya) lafadh tersebut dalam pengertian mohon perlindungan.
Orang-orang sering kali ketika ditimpah hal-hal yang kurang disukai mengucapkan ucapan : حجراً محجوراً  dengan memakai arti : منعاً ممنوعاً  (aku mencegah diriku dengan sungguh-sungguh)
Kedudukan sifat berfungssi sebagai pengukuhan. Apabila ada orang yang hendak melakukan berbuatan yang mestinya tidak boleh dikerjakan atau ingin mengerjakan perbuatan yang tidak halal, maka biasanya diucapkan : حجراً محجوراً dengan memakai arti : حرماً محرماً (aku mencegahmu dengan sungguh-sungguh, dan mengharamkan itu dengan sungguh-sumgguh)
Termasuk sebagai contoh masdar sima’i lagi ialah beberapa bentuk masdar  yang ucapannya dalam bentuk tasniyah, seperti contoh : لَبَّيْك , سَعْدَيْك , جَنَانَيْك , دَوَلَيْك , حَذَارَيْك  
6.        Masdar yang terletak sebagai perinci suatu ma’na yang masih global yang berada sebelumnya dan menjelaskan akibat serta hasilnya, seperti contoh :
فشُدُّ والوثاقَ فإمّا منّاً بعدُ وإمّا فداءً (maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu membebaskan mereka atau menerima tebusan).
7.        Masdar yang mengukuhkan kandungan jumlah sebelumnya. Baik masdar itu dirangkai untuk mengukuhkan semata, artinya bukan menghindarkan pengertian yang majaz, karena adanya kalimat hanya membawa arti yang hakiki. Seperti contoh :
لكَ عليَّ الوفاءُ بالعهدِ حقّاً (bagimu atas tanggunganku penetapan janji dengan sesumgguhnya)
Atau untuk mengukuhkan dalam pengertian menghindarkan dari pengertian majaz, seperti contoh :
هو أخى حقّاً (dia adalah saudaraku dengan sebenarnya), ucapan هو أخى membawa pengertian kemungkinan dalam persaudaraan  atu ukhuwwah secara majaz, sedangkan lafadh حقّا adalah yang menghilangkan pengertian kemungkinan majaz tersebut.
Diantara masdar yang mengukuhkan kandungan jumlah ialah ucapan orang-orang arab : لا أفعلُهُ بتّاً وبتاتاً وبتَّةً والبتَّةَ  (saya tidak akan melakukannya dengan pasti).
Dalam menentukan hamzahnya lafadh البتَّةَ boleh dua macam bentuk, yaitu قطع  dan وصل  penentuan hamzah washol sesuai dengan kaidah. Sebab memang berupa hamzah washol lafadz tersebut dipakai untuk segala hal yang telah lewat dan tidak akan kembali.
Semua masdar yang menggantikan fi’ilnya yang telah disebutkan terdahulu, adalah wajib membuang amilnya, sebagai mana kita ketahui. ‘amilnya tidak boleh di sebutkan. Sebab masdar dirangkaikan dalam kalimat hanyalah untuk digunakan sebagai ganti dari fi’il-fi’ilnya.
Perlu diketahui bahwa masdar yang dirangkaikan dalam kalimat yang tujuannya untuk mrnggantikan fi’ilnya artinya menggantikan ucapan fi’ilnya bukanlah termasuk macam masdar yang mengukuhkan, sebagaimana dengan ulama’ nahwu. Namun merupakan macam yang lain artinya merupakan macam masdar terdiri. Sebab jikalau merupakan masdar muakkid tentunya tidak boleh membuang amilny. Sebab, masdar yang ini tujuannya untuk mengukuh dan menguatkan amilnya. Jadi membuang amil pada masdar ini berarti kontrakdiksi dengan tujuan masdar muakkad. Seandainya dari jenis masdar muakkid tentunya boleh menyebutkan amilnya. Tetapi yang demikian tidak seorang pun Ulama’ nahwu yang menjelaskannya. Sedangkan mereka telah sepakat bahwa masdar muakkid boleh menuturkan amilnya, seperti cotoh :
يآ أيُّهاَ الَّذِيْنَ امَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْماً  (yang orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya).